Cari
  • BRANI

3 FAKTA YANG MUNGKIN KAMU NGGA TAU TENTANG GENDER DI INDONESIA

Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara yang cukup konservatif dalam hal seksualitas dan gender, banyak yang mungkin nggak tau kalau suku-suku di Indonesia ternyata cukup progresif tentang gender. Berikut 3 fakta tentang gender di Indonesia yang mungkin bikin kamu kaget!


1. Suku Bugis mengenal 5 gender!


Bukan hanya gender laki-laki (oroane) dan perempuan (makkunrai), suku Bugis ternyata juga mengenal 3 gender tambahan lainnya. Hah apa aja?


Calabai adalah sebutan bagi mereka yang terlahir dengan jenis kelamin laki-laki, namun mengambil peran layaknya perempuan/makkunrai dalam masyarakat. Mereka memiliki tugas tersendiri di masyarakat Bugis. Misalnya, mereka sering kali bertanggungjawab dalam acara pernikahan di kampung Bugis. Mereka akan mengatur dan mendekor tenda acara, termasuk merias pengantin dan tamu undangan.


Nah, sedangkan calalai adalah mereka yang berjenis kelamin perempuan, namun mereka merasa lebih terasosiasi dengan sifat maskulin. Mereka biasanya menikah dengan perempuan dan hidup layaknya seorang laki-laki. Mereka berpakaian layaknya laki-laki dan biasanya mengambil pekerjaan yang sangat maskulin.


Terakhir, ada gender bissu yang merupakan perpaduan antara gender laki-laki dan perempuan. Seorang bissu merupakan sosok spiritual yang dianggap dapat menjembatani manusia dan dewa. Biasanya seorang bissu terlahir dengan alat kelamin yang tidak sesuai dengan definisi umum tentang perempuan atau laki-laki (interseks). Tidak hanya itu, mereka juga harus belajar bahasa, lagu, dan mantera tertentu agar dapat menjadi seorang bissu.


2. Toraja juga mengenal gender selain perempuan dan laki-laki!


Tidak jauh berbeda dengan suku Bugis, suku Toraja juga mengenal gender lain selain laki-laki dan perempuan. Gender ketiga ini disebut sebagai to burake tambolang. To burake tambolang adalah sebutan bagi mereka yang berjenis kelamin laki-laki namun berpakaian layaknya seorang perempuan. Mereka memegang peran spiritual penting dalam masyarakat.


Walaupun tidak banyak informasi yang bisa didapat mengenai to burake tambolang, beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka terlahir sebagai interseks. Ada pula sumber yang mengatakan bahwa banyak to burake tambolang telah menikah dan mempunyai anak sebelum mereka mendapat panggilan untuk menjadi tokoh spiritual. Mereka bahkan bisa menikah dengan seorang pria ketika mereka menjadi seorang burake. Menurut suku Toraja, burake tambolang adalah sosok setengah pria dan setengah wanita dimana tubuh bagian atas adalah perempuan dan tubuh bagian bawah adalah laki-laki.


3. Dulunya pementasan Ludruk dimainkan oleh laki-laki!


Buat kalian yang tidak tahu apa itu Ludruk, Ludruk adalah sebuah pentas kesenian tradisional asal Jawa Timur. Ciri khas Ludruk, dulunya, adalah semua pemainnya berjenis kelamin laki-laki, termasuk untuk peran perempuan.


Menurut beberapa sumber, kesenian Ludruk telah hadir di Indonesia sejak abad ke-13, bersamaan dengan masuknya agama Islam di Indonesia. Pada jaman itu, Ludruk dipentaskan pada malam hari. Berhubung perempuan, pada saat itu, tidak diizinkan untuk keluar pada malam hari, laki-laki lah yang memerankan peran perempuan dalam Ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, perempuan turut mengambil peran dalam kesenian Ludruk.


Nah, dari tiga fakta ini, kita bisa belajar bahwa Indonesia telah mengenal konsep non-biner dalam gender sejak dahulu kala. Sayangnya, setelah berjalannya waktu, negara kita justru semakin konservatif dalam menanggapi isu gender. Semoga di masa depan, Indonesia bisa lebih terbuka dalam memandang konsep fluiditas gender, ya!




136 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua