Cari
  • BRANI

Apa itu Transfobia?

Pengertian singkat terkait transgender, transeksual, dan transfobia

Orang transgender adalah individu yang merasa identitas gendernya berbeda dengan jenis kelamin yang ia bawa ketika lahir. Sementara itu, transeksual seringkali merujuk pada transgender yang melakukan usaha perubahan kelamin, seperti dengan tindakan operasi atau terapi hormon. Untuk lebih jelasnya, baca artikel tim BRANI ‘MENGENAL LEBIH LANJUT: TRANSGENDER’.

Sedangkan, Transfobia adalah adalah ketakutan dan kebencian, atau perasaan yang sangat tidak nyaman dengan orang – orang yang memiliki identitas gender dan ekspresi gender yang tidak sama dengan yang diharapkan/ dipakemkan oleh paham budaya tertentu.

Selain ketiga hal diatas, ada juga Transmisogyny, yaitu sikap negatif, kebencian, dan diskriminasi terhadap individu transgender yang jatuh pada sisi feminin dari spektrum gender, khususnya transpuan (male-to-female). Istilah ini diciptakan oleh Julia Serano dalam bukunya 2007 Whipping Girl. Menurut Serano, transmisoginy adalah bentuk interseksional dari seksisme, berdasarkan interaksi antara seksisme oposisi dan tradisional.


Penyebab dan akibat dari transfobia

Penyebab utama dari transfobia adalah kurangnya atau bahkan tidak adanya informasi sama sekali terkait identitas dan ekspresi gender, khususnya trans. Oleh karenanya, orang terkadang tidak menyadari adanya transgender, transeksual, dan juga masalah yang dihadapi oleh para trans. Selain kurangnya informasi, orang-orang mungkin memegang kepercayaan transfobia yang disebabkan oleh ajaran dari jika orang lain, termasuk orang tua, keluarga, atau teman yang mendorong ide-ide negatif tentang transgender dan yang memegang keyakinan ketat tentang peran gender secara tradisional.

Transfobia dapat menciptakan bentuk diskriminasi yang bersifat langsung maupun yang tidak langsung. Beberapa contoh yang ada disekitar kita, orang trans (atau bahkan yang hanya diasumsikan) dapat ditolak pekerjaan, perumahan, atau perawatan kesehatan. Selain itu, orang trans sering menjadi menjadi bahan cibiran, diasingkan dari kegiatan komunitas, yang kerap membuat mereka merasa tertekan. Tekanan transfobia pada orang trans bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan: depresi, ketakutan, isolasi, perasaan putus asa, dan bunuh diri.


Tingkatan - tingkatan transfobia


Transfobia dapat terjadi di berbagai tingkatan, yaitu:


Level pribadi

Semua orang bisa memiliki transfobia pada tingkatan ini, karena sudah terinternalisasi dalam benak masing-masing sehingga kadang tidak disadari. Bentuknya berupa ketakutan pada kondisinya sendiri, misalnya khawatir dan takut mengakui jangan-jangan dirinya sendiri adalah seorang transgender.


Level interpersonal

Pada tingkatan ini, transfobia diwujudkan dalam sikap diskriminatif dan kebencian secara personal. Ketidakmampuan untuk menerima keberadaan kaum transgender bisa diwujudkan dalam bentuk paling halus seperti anjuran untuk bertobat, hingga bentuk-bentuk yang lebih kasar misalnya mengolok-olok.


Level komunitas

Bentuk transfobia di level sosial dan komunitas berwujud pembiaran oleh lingkungan terhadap tindak kekerasan. Gerakan-gerakan sosial menentang keberadaan kaum waria merupakan salah satu contoh transfobia di level komunitas.


Level sistemik

Transfobia di level sistemik adalah ketakutan terhadap transgender yang dilegalisasi oleh hukum, kebijakan pemerintah maupun norma agama. Contohnya adalah keringanan hukum yang diterima para pembunuh Gwen Araujo, wanita transgender di California tahun 2002. Para terpidana mengajukan trans-panic defense, yakni pembelaan hukum dengan dalih terpaksa membunuh karena panik waktu bertemu kaum transgender.


Cara-cara memerangi transfobia


Nah, terkait dengan cara-cara untuk memerangi transfobia, hal pertama yang dapat dilakukan untuk memerangi transfobia level pribadi adalah dengan pengetahuan diri. BRANI tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap individu harus memiliki kepastian sehubungan dengan identitas diri, karena hal tersebut sangat sulit dilakukan. Namun pengetahuan diri yang dimaksud adalah langkah ke arah yang benar dan introspeksi tentang keinginan terdalam kita. Kata ganti apa (panggilan) yang kita sukai? Bagaimana kita ingin mengekspresikan diri? Bagaimana perasaan kita tentang tubuh kita? Bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain? Memerangi transfobia level pribadi membutuhkan proses introspeksi yang berkelanjutan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Inilah yang membuat orang-orang trans sangat reflektif dalam hal gender.

Langkah kedua adalah dengan memahami sifat normalisasi cis (identitas gender sesuai dengan alat kelamin saat lahir) yang sepihak. Normalisasi cis adalah gagasan bahwa cis-ness itu normal dan menjadi trans itu aneh, dan bukan hanya dalam arti statistik. Jelas orang trans akan selalu menjadi minoritas statistik. Tapi sangat penting untuk melawan normativitas cis dan memahami bahwa menjadi trans adalah bagian normal dari variasi manusia, seperti berambut merah.

Selain itu, ada beberapa hal-hal lain yang dapat kamu lakukan untuk membantu menghentikan transfobia, seperti:

  • Jangan pernah melakukan penghinaan dalam bentuk apapun terhadap orang trans;

  • Jangan seenaknya mengajukan pertanyaan pribadi terkait alat kelamin, operasi yang dilakukan, atau kehidupan seks orang trans;

  • Hindari memberikan pujian kepada orang-orang trans yang sebenarnya merupakan penghinaan. Beberapa contoh termasuk: "Kamu terlihat seperti perempuan sungguhan!";

  • Jangan percaya stereotip tentang orang trans atau membuat asumsi tentang mereka;

  • Jadilah pendukung (ally) komunitas transgender, terlepas dari identitas gender kamu sendiri;

  • Biarkan orang-orang transgender dalam hidupmu tahu bahwa kamu adalah teman dan pendukung;

  • Mendidik diri sendiri tentang masalah ekspresi and identitas gender;

  • Hormati keputusan seseorang tentang kapan dan dimana dia akan come out, jangan mengungkapkan identitas transgender orang lain atau orientasi seksual tanpa persetujuan atau izin mereka. Kamu berisiko membuat mereka merasa malu, kesal, dan rentan. Kamu juga dapat menempatkan mereka dalam risiko diskriminasi dan kekerasan;

  • Jika Kamu tidak tahu kata ganti atau nama pilihan seseorang, tanyakan;

  • Gunakan bahasa netral gender, seperti "mereka" dan “dia” atau "orang" dan hormati kata ganti dan nama yang dipilih orang-orang trans dan gunakanlah. Tidak apa-apa jika Kamu kadang-kadang mengacaukan kata ganti seseorang atau nama secara tidak sengaja, terutama jika transisinya baru bagi kamu. Jika ini terjadi, minta maaf dan upayakan untuk menggunakan kata ganti yang benar di masa mendatang;

  • Jika kamu merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang trans, lebih baik tidak berbuat atau mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung. Ingatlah bahwa menjadi transgender hanyalah salah satu bagian dari kehidupan seseorang.

Terakhir, jika kamu adalah seorang yang mengalami transfobia dan ingin berdiskusi dengan tim BRANI, jangan ragu untuk hubungi kami. Selain itu, jika kamu tau ada orang lain atau mengalami sendiri tindak diskriminasi atau bahkan kekerasan sebagai seorang trans, kami siap membantu kalian juga. #translifematters



79 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua