top of page
Cari
  • Gambar penulisBRANI

BOYS WILL BE BOYS: Berkenalan dengan Toxic Masculinity (Part.2)


Geolilli / Shutterstock.com

Di artikel sebelumnya (BOYS DON’T CRY: Berkenalan dengan Toxic Masculinity (Part.1)) dijelaskan bahwa toxic masculinity itu dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental seorang laki-laki. Nah, artikel ini akan menjelaskan dampak lain dari toxic masculinity yang ternyata berkontribusi pada terjadinya kekerasan berbasis gender, yang dialami oleh para perempuan.


Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah “manifestasi dari ketidaksetaraan secara historis hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, yang telah menyebabkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan oleh laki-laki serta hambatan atas kemajuan perempuan”. Sikap dominasi dan diskriminasi ini didasarkan pada gagasan dan praktik toxic masculinity.


Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, ekspresi maskulinitas baik dalam gambar-gambar yang kita lihat maupun cerita-cerita yang kita dengar terkait dengan ‘bagaimana pria sejati harus berperilaku’, cenderung keras dan agresif. Menggunakan kekerasan merupakan cara yang umum dan diterima secara sosial oleh para laki-laki untuk menegaskan dan mempertahankan identitas gender mereka sebagai 'pria sejati'. Oleh sebab itulah, banyak laki-laki yang merasa memiliki justifikasi untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, termasuk terhadap perempuan.


Toxic masculinity dan kekerasan terhadap perempuan


Maskulinitas dan heteroseksualitas ternyata terhubung juga melalui kekerasan seksual. Ada sebuah ‘kepercayaan’ di kalangan masyarakat yaitu bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual yang tidak terkendali dan bahwa perempuan secara alami lebih pasif dalam hal aktivitas seksual. 'Kepercayaan' tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi hubungan dalam berpacaran atau pernikahan di Indonesia, terutama dalam hal stigma perempuan tidak boleh berhubungan seks sebelum menikah. Sedangkan, masyarakat menganggap laki-laki dan aktivitas seksual merupakan hal yang tidak terpisahkan.


Selain itu, perdebatan tentang definisi dan pemahaman tentang pelecehan seksual atau pemerkosaan menunjukan bahwa kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki masih kerap dipandang sebagai hal yang dapat diterima, bahkan layak. Hal ini terlihat jelas dalam respon khas terhadap kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan, yang seringkali malah menyalahkan korban, seperti:


“...Namanya juga cowok, kalau ngeliat cewek berbaju seksi ya horny”


atau simply “...BOYS WILL BE BOYS”

Satu studi skala besar dari UN-Women menemukan bahwa motivasi paling umum yang dilaporkan laki-laki untuk melakukan perkosaan adalah terkait dengan hak seksual mereka, yaitu keyakinan laki-laki bahwa mereka memiliki hak untuk berhubungan seks, terlepas dari persetujuan. Di sebagian besar konteksnya, motivasi ini dilaporkan oleh 70-80 persen pria yang telah melakukan perkosaan.


Ajaran toxic masculinity juga berdampak pada kekerasan dalam rumah tangga. Ajaran toxic masculinity menumbuhkan ketakutan para laki-laki untuk dianggap ‘tidak jantan’ karena berpenghasilan lebih rendah atau bahkan karena tidak mampu menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Hal tersebut terkadang menciptakan ketegangan signifikan dalam hubungan dan mendorong potensi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga.


Apa yang dapat kita lakukan?


  • Sebagai individu, kita bisa renungkan sikap dan perilaku kita sendiri terhadap orang lain. Apakah yang kita lakukan sudah berkontribusi pada penghapusan toxic masculinity?

  • Sebagai orang tua, kita bisa mendidik anak-anak kita dengan nilai-nilai transformative masculinity.

  • Sebagai teman, kita bisa mengajak teman laki-laki kita untuk berdiskusi terkait dengan topik kesetaraan gender. Kita juga harus mengingatkan mereka apabila mereka berbuat sesuatu yang menunjukan sikap diskriminatif terhadap gender/orang lain.

  • Sebagai komunitas, kita bisa mulai untuk melakukan awareness-raising terkait dengan bahaya toxic masculinity.

Dengan demikian, semoga ajaran-ajaran toxic masculinity semakin berkurang, sehingga dapat mengurangi juga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

65 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentarios


bottom of page